Malang kota yang dingin dan air mataku membeku sehingga tidak menetes ditempat itu. Kecewa tetapi tidak sakit dan sempat membuatku menganga. Lewat perasaan yang membingungkan ini banyak memberi pengalaman hati. Dari yang sering kepikiran dan kekhawatiran gara-gara dia gak muncul di timeline, sekedar mendapat like dari dia sudah bahagia. Aneh memang tetapi mudah-mudahan ini sudah berakhir. Mudah-mudahan jari-jariku tak akan mengetik namanya di seluruh sosial media, mudah-mudahan hatiku tak menunggu kemunculan timelinenya. Ya sesimple itu keinginanku, melupakan yang seharusnya tak pernah aku lakukan.
Mengapa harus kopi pahit? sementara manisnya sup buah masih mendinginkan. Bukan benci pada kopi. tetapi saat ini hanya tak ingin merasakan rasanya pahit, karena bukannya yang manis itu lebih indah. Mungkin kenangan ini akan teringat saat aku kembali ingin mencicipi kopi lagi, entahh kapan tapi yang pasti aku ingin yang manis bukan yang hambar. Dan untuk kopi pahit malam ini the last dan ikhlas ya..... Selamat tinggal, dan bila kita bertemu aku tidak akan lagi meminummu mungkin hanya menyapamu. Dan satu lagi selamat akhirnya kamu menemukan takaran gula yang pas untuk membuatmu sedikit manis.

Salam
Baristalius Amatiro
No comments:
Post a Comment