Thursday, 28 April 2016

Sweet Coffe

Panas, pahit ditambah hambar pas untuk mendiskripsikan kopi yang aku pesan malam ini, entah kebetulan atau tidaknya rasa kopi kali ini menggambarkan suasana hatiku. Angkringan malam ini begitu ramai tetapi hatiku serasa sepi. Gelak tawaku adalah penahan rasa sakit. Hatiku menuntunku menunjukkan sebuah kekecewaan sekaligus melegakan. Tuhan terimakasih telah memberitahuku lebih dulu ternyata dia bukan yang terbaik.

Malang kota yang dingin dan air mataku membeku sehingga tidak menetes ditempat itu. Kecewa tetapi tidak sakit dan sempat membuatku menganga. Lewat perasaan yang membingungkan ini banyak memberi pengalaman hati. Dari yang sering kepikiran dan kekhawatiran gara-gara dia gak muncul di timeline, sekedar mendapat like dari dia sudah bahagia. Aneh memang tetapi mudah-mudahan ini sudah berakhir. Mudah-mudahan jari-jariku tak akan mengetik namanya di seluruh sosial media, mudah-mudahan hatiku tak menunggu kemunculan timelinenya. Ya sesimple itu keinginanku, melupakan yang seharusnya tak pernah aku lakukan.

Mengapa harus kopi pahit? sementara manisnya sup buah masih mendinginkan. Bukan benci pada kopi. tetapi saat ini hanya tak ingin merasakan rasanya pahit, karena bukannya yang manis itu lebih indah. Mungkin kenangan ini akan teringat saat aku kembali ingin mencicipi kopi lagi, entahh kapan tapi yang pasti aku ingin yang manis bukan yang hambar. Dan untuk kopi pahit malam ini the last dan ikhlas ya..... Selamat tinggal, dan bila kita bertemu aku tidak akan lagi meminummu mungkin hanya menyapamu. Dan satu lagi selamat akhirnya kamu menemukan takaran gula yang pas untuk membuatmu sedikit manis.


Salam




Baristalius Amatiro

'tween you and me

almost 3 Years antara aku dengan kamu  apa yang membuat kita bertahan selama ini dan semoga akan selalu tak jarang kita bertengkar, aku deng...